Senin, 25 Januari 2021

Sejarah Kerajaan Kutai









Latar Belakang Kerajaan Kutai

Kerajaan Kutai Martadipura merupakan kerajaan Hindu tertua di Nusantara. Kerajaan Kutai yang terletak di pinggir sungai mahakam sungai Mahakam di Muarakaman, Kabupaten Kutai, Kalimantan Timur, dekat Kota Tenggarong.

Kerajaan ini diperkirakan berdiri pada abad ke-4 hingga ke-5 masehi atau sekitar tahun 400 masehi, oleh raja pertamanya yaitu Raja Kudungga. Sebelum mendirikan kerajaan, Kudungga diketahui belum memeluk agama Hindu. Kemudian, setelah agama Hindu masuk ia mengubah sistem pemerintahan menjadi kerajaan.

Bukti sejarah yang dapat ditemkan dari kerajaan ini adalah ditemukannya 7 prasasti berupa yupa yang ditulis dengan huruf pallawa dan bahasa sansekerta. Isi prasasti yupa menyatakan bahwa raja petama kutai bernama Kudungga yang  memiliki anak bernama Aswawarman yang disebut wangsekerta (pembentuk keluarga). Setelah Aswawarman meninggal, ia digantikan oleh putranya Mulawarman. Penggunaan nama asmawarman dan nama raja-raja selanjutnya menyatakan mulai masuknya pengaruh agama hindu di nusantara.

Perkembangan Kerajaan Kutai

Letak Kerajaan Kutai yang menjorok ke daerah pedalaman, menyebabkan pedagang dari Cina dan Indiatertarik untuk menjadikannya sebagai tempat persinggahan mereka. Hal inilah yang menyebabkan pengaruh Hindu masuk ke Kutai dan membuat kegiatan perdagangan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Kutai.

Raja-Raja Kerajaan Kutai

1.       Maharaja Kudungga, gelar anumerta Dewawarman (pendiri)

2.       Maharaja Aswawarman (anak Kundungga)

3.       Maharaja Mulawarman (anak Aswawarman)

4.       Maharaja Marawijaya Warman

5.       Maharaja Gajayana Warman

6.       Maharaja Tungga Warman

7.       Maharaja Jayanaga Warman

8.       Maharaja Nalasinga Warman

9.       Maharaja Nala Parana Tungga Warman

10.  Maharaja Gadingga Warman Dewa

11.  Maharaja Indra Warman Dewa

12.  Maharaja Sangga Warman Dewa

13.  Maharaja Candrawarman

14.  Maharaja Sri Langka Dewa Warman

15.  Maharaja Guna Parana Dewa Warman

16.  Maharaja Wijaya Warman

17.  Maharaja Sri Aji Dewa Warman

18.  Maharaja Mulia Putera Warman

19.  Maharaja Nala Pandita Warman

20.  Maharaja Indra Paruta Dewa Warman

21.  Maharaja Dharma Setia Warman

        Meski terdapat 21 nama raja yang diketahui, namun hanya ada lima nama raja yang tercatat dalam sumber sejarah, yakni 3 orang di Prasasti Yupa beraksara Pallawa dan 2 orang dalam kitab Salasilah Raja dalam Negeri Kutai Kertanegara beraksara Arab Melayu. 3 diantaranya, yaitu:

1. Kundungga

        Kundungga adalah kakek dari Mulawarman, dan dianggap sebagai pemimpin pertama dari wilayah kerajaan Kutai. Disinyalir pada masa ini pengaruh dari India masuk ke Nusantara pada waktu-waktu ini, terbukti dari penggunaan nama Kundungga yang merupakan nama asli. Namun Yupa menjelaskan bahwa pendiri wangsa atau dinasti pertama kerajaan adalah Aswawarman. Terlihat dari penggunaan nama yang berlanjut terus sampai ke putranya. Namun karena Kundungga adalah kakek dari Mulawarman, dapat disimpulkan bahwa ia merupakan pemimpin dari peradaban yang ada. Meskipun tidak dianggap sebagai pendiri keluarga raja. Jika Aswawarman menggunakan budaya Hindu, maka hanya orang-orang beragama Hindu yang dapat dianggap sebagai keluarga raja.

2. Aswawarman

        Aswawarman merupakan putra dari Kundungga, diduga sebagai raja pertama yang menggunakan nama wangsa. Sehingga dapat dipahami sebagai masuknya pengaruh India ke Kutai ada di masa ini. Aswawarman dianggap sebagai penganut agama Hindu pertama di lingkungan keluarga raja. Ia memiliki tiga putra, salah satunya Mulawarman yang dianggap sebagai raja terbesar di Kutai. Di mana ia memerintahkan pembuatan Yupa untuk menjelaskan silsilah keluarga, dan kebaikan-kebaikan keluarga kerajaan kepada masyarakat dan agama.

3. Mulawarman

        Mulawarman dianggap sebagai raja terbesar Kutai, Yupa mencatat banyak pencapaian-pencapaiannya. Diantaranya mengadakan kenduri dengan emas yang banyak, bersedekah segunung minyak, dan 20.000 ekor sapi kepada para brahmana. Yupa juga menjelaskan bahwa Mulawarman tersohor karena mengalahkan raja-raja lain di medan perang, dan disamakan dengan raja Yudistira. Munculnya nama Yudistira ini dianggap sebagai bukti masuknya pengaruh-pengaruh dari India kepada keluarga kerajaan dan Brahmana.

Masa Kejayaan Kutai

Masa kejayaan Kerajaaan Kutai berada pada massa pemerintahan Raja Mulawarman. Dalam sejarah kerajaan tersebut, wilayah kekuasaan diketahui mencakup hampir seluruh wilayah Kalimantan Timur sehingga rakyatnya bisa hidup sejahtera dan makmur. Selain itu, kejayaannya dibuktikan dengan pemberian sedekah kepada kaum Brahmana berupa 20.000 ekor sapi. Jumlah 20.000 ekor sapi ini membuktikan bahwa pada masa itu kerajaan Kutai telah mempunyai kehidupan yang makmur dan telah mencapai massa kejayaannya.

Nilai Kehidupan

·        Aspek Ekonomi

        Kehidupan ekonomi di Kutai, tidak diketahui secara pasti,terkecuali kisah raja mulawarman yang menyedekahkan emas dan 20.000 sapi kepada kaumbrahmana.

·        Aspek Politik

        Dalam kehidupan politik, dijelaskan dalam yupa bahwa raja terbesar Kerajaan Kutai adalah Mulawarman, putra Aswawarman dan Aswawarman adalah putra Kudungga. Dalam yupa juga dijelaskan bahwa Aswawarman disebut sebagai Dewa Ansuman/Dewa Matahari dan dipandang sebagai Wangsakerta atau pendiri keluarga raja. Hal ini berarti Aswawarman sudah menganut agama Hindu dan dipandang sebagai pendiri keluarga atau dinasti dalam agama Hindu.

·        Aspek Sosial

        Dalam kehidupan sosial terjalin hubungan yang harmonis/erat antara Raja Mulawarman dengan kaum Brahmana, seperti yang dijelaskan dalam yupa, yang mana ia bersedekah 20.000 ekor sapi kepada kaum Brahmana di dalam tanah yang suci bernama Waprakeswara

·        Aspek budaya

        Dalam kehidupan budaya dapat dikatakan kerajaan Kutai sudah maju. Hal ini dibuktikan melalui upacara penghinduan (pemberkatan memeluk agama Hindu) yang disebut Vratyastoma, selain itu juga diadakannya kenduri-kenduri juga menjadi bukti majunya aspek budaya kerajaan ini.

Runtuhnya Kerajaan Kutai

        Runtuhnya kerajaan mulai terjadi kala dipimpin oleh raja bernama Maharaja Dharma Setia. Ia diketahui meninggal dunia dalam peperangan melawan raja Kutai Kertanegara ke-13, Aji Pangeran Anum Panji Mendapa.

        Adapun, kerajaan Kutai Kertanegara berbeda dengan kerajaan Kutai Marthadipura. Sehingga, Raja Aji Pangeran mengambil alih kepemimpinan kerajaan Kutai yang akhirnya dikenal menjadi kesultanan Islam.

Peninggalan Kerajaan Kutai

          Terdapat 7 prasasti berupa yupa yang ditemukan sebagai bukti sejarah kerajaan ini. Dari 7 prasasti yang ditemukan hanya 4 prasasti yang berhasil diterjemahkan.

1. Yupa atau Prasasti Mulawarman

        Yupa adalah tiang batu di mana prasasti dipahatkan di sana. Prasasti ini ditemukan di daerah Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur tepatnya di hulu sungai Mahakam. Sampai saat ini telah ditemukan tujuh buah Yupa, seluruhnya dikeluarkan oleh Mulawarman dan dibuat oleh brahmana kerajaan Kutai. Prasasti ini dibuat dalam rangka menjelaskan kebesaran Mulawarman dan garis keluarganya, serta kebaikan-kebaikan raja kepada para brahmana. Dijelaskan dalam salah satunya bahwa Mulawarman menyumbangkan emas yang banyak dalam kenduri, segunung minyak, dan 20.000 ekor sapi kepada para brahmana di tanah suci bernama waprakeswara. Prasasti ini hanya berisi pujian kepada raja, sehingga tidak diketahui keadaan keseluruhan kerajaan ataupun lingkungan Kalimantan Timur pada masa tersebut. Dimungkinkan bahwa kebanyakan masyarakat masih menganut budaya dan agama asli wilayah tersebut, dan belum mengikuti agama Hindu yang dianut keluarga raja dan para brahmana.

2. Arca Siwa, Arca Nandiswara, dan Gua di Sungai Jelai

        Penemuan Arca Siwa dan Arca Nandiswara di Gunung Kombeng, Kalimantan Timur merupakan penjelasan atas kebudayaan India dan agama Siwa yang dianut oleh setidaknya lingkungan kerajaan Kutai. Sementara itu di Sungai Jelai, Tepian Langsat, Kutai Timur ditemukan lukisan cap tangan pada gua-gua. Gua ini diduga sebagai salah satu tempat hidup masyarakat sebelum masa Mulawarman di Kalimantan Timur.

3. Ketopong Sultan

Ketopong Sultan, Foto: Dok. Dictio

        Ketopong adalah mahkota Sultan Kerajaan Kutai yang terbuat dari emas dengan bobot 1,98 kg serta dilengkapi dengan permata. Ketopong yang sekarang tersimpan di Museum Nasional Jakarta ini pertama kali ditemukan pada tahun 1890 di daerah Muara Kaman, Kutai Kartanegara. Konon, ketopong ini pernah dipakai oleh Sultan Aji Muhammad Sulaiman pada 1845 – 1899 dan juga Sultan Kutai Kartanegara.

4. Kura-Kura Emas

Kura-kura emas, Foto: Dok. Talde Brooklyn

        Kura-kura emas yang sekarang tersimpan di Museum Mulawarman ini ditemukan di daerah Long Lalang yang masih kawasan hulu sungai Mahakam. Konon, kura-kura emas ini merupakan persembahan dari pangeran di sebuah kerajaan Cina untuk putri Raja Kutai, yakni Aji Bidah Putih. Benda ini diserahkan sebagai bukti kesungguhannya yang ingin mempersunting putri kerajaan Kutai.

5. Gamelan Gajah Prawoto

Gamelan Gajah Prawoto, Foto: Dok. Bermudabda

        Gamelan identik dengan budaya jawa, begitu pula Gamelan Gajah Prawoto. Peninggalan Kerajaan Kutai yang satu ini dipercaya berasal dari Jawa. Tidak heran jika Kerajaan Kutai memiliki gamelan ini. Pasalnya selama berdiri Kerajaan Kutai berhasil menjalin hubungan baik dengan sejumlah kerajaan di Pulau Jawa.


Anggota Kelompok 1

1. Ahmad Maula Robby (03)
2. Fathur Ramadhani NR (10)
3. Moh. Rizky Rahmadian M (17)
4. Reffianza Al Atallah Aisy Sevilen (21)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sejarah Kerajaan Kutai

Latar Belakang Kerajaan Kutai Kerajaan Kutai Martadipura merupakan kerajaan Hindu tertua di Nusantara. Kerajaan Kutai yang terletak di p...